Menang Lomba di KIPPAS Sumatera Utara

Tuesday, December 30, 20140 comments

PENGANTAR
September 2014, KIPPAS Medan, Sumatera Utara menyelenggarakan lomba menulis opini dan feature untuk jurnalis di Aceh. Isu utama lomba itu yakni layanan publik. Saya menulis tentang kematian bayi. Tulisan ini saya kerjakan dalam sejam. Sembari menikmati obrolan sore dengan beberapa teman di kantor Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Utara.

Satu hal yang saya yakini, bukan soal menang dan kalah. Tapi, soal ikut serta dalam satu pelaksanaan lomba adalah hal menyenangkan. Selain itu, saya meyakini seperti manusia, setiap naskah akan menemukan jodohnya sendiri. 

Inilah naskah yang memenangkan lomba penulisan feature di KIPPAS Medan, Sumatera Utara. Hadiah lomba ini Asus 7. 

==
Kematian Bayi, Cerita Lama tak Berujung
Masriadi

SEJUMLAH orang duduk di lobi kantor Dinas Kesehatan Aceh Utara, di Desa Alue Mudem, Kecamatan Lhoksukon, kabupaten setempat, Selasa (16/9). Di sisi kiri-kanan lobi, terdapat ruang kerja. Sejumlah pegawai sibuk di ruang itu. Sedangkan di lobi, sejumlah pegawai dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) duduk santai. Sebagian dari mereka mengurus kenaikan pangkat. Sebagian lagi, menyerahkan laporan bulanan ke kantor bercat biru muda itu.

Dinas itu sedang di rundung malang. Pasalnya, data Dinas Kesehatan Aceh menyatakan Aceh Utara sebagai daerah tertinggi kematian ibu dan bayi di provinsi di ujung Sumatera itu. Secara keseluruhan, rata-rata kematian ibu dan bayi di provinsi Aceh sebanyak 100 orang per bulan.

Sedangkan khusus untuk Aceh Utara, sepanjang Januari-Agustus 2014 tercatat 22 ibu dan 99 bayi meninggal dunia ketika melewati proses persalinan. Salah satunya, adalah bayi dari Azmi (45). Warga Desa Samakurok, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara itu bulan lalu kehilangan putra keenamnya. Bayi itu meninggal dunia sejak dalam kandungan. Bidan setempat membantu proses persalinan.

“Saya sudah ikhlaskan apa pun yang terjadi untuk bayi saya. Saya tidak tahu penyebabnya. Padahal, kami mengecek secara rutin ke dokter. Namun, sebelum melahirkan bayi itu sudah meninggal di kandungan,” terang Azmi.

Dikatakan, dia telah menempuh layanan medis sebaik mungkin. Sayangnya, takdir berkata lain. “Ini sudah takdir Allah,” katanya pasrah. Hal yang sama dituturkan, Halida Alied (30) warga Desa Serdang, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara. Karyawan di perusahaan swasta ini menyebutkan dua kali buah hatinya meninggal dunia dalam kandungan. “Anak pertama berusia lima bulan dalam kandungan. Yang kedua berusia enam bulan. Saat itu, saya tidak mengetahui penyebabnya, mengapa janin saya meninggal dalam kandungan dan tidak selamat,” sebutnya.

Setelah dua kali mengalami musibah yang memilukan itu, Halida berkonsultasi ke dokter spesialis kandungan. “Dokter menyarankan agak saya cek darah. Setelah cek di salah satu laboratorium swasta, diketahui ternyata saya ada virus toxoplasma. Virus ini diduga penyebab utama, janin saya meninggal dunia,’ kenangnya melambung ke peristiwa dua tahun lalu.

Sejak awal, sambung Halida, dirinya tidak mengetahui seluk beluk kehamilan. Dia berusaha agar tetap rileks, mengkonsumsi makanan yang sehat dengan kadar gizo yang cukup serta tidak bekerja selama mengandung.

“Saya periksa kandungan sejak dari bidan sampai dokter spesialis. Semuanya mengatakan normal saja. Karena itulah, saya putuskan untuk ikut saran dokter memeriksa darah apakah ada penyakit atau tidak,” ujarnya. Tapi, sayangnya sambung Halida, saran dokter itu disampaikan setelah dua kali kehilangan buah cintanya.
Kekurangan Bidan
Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Efendi tak menampik angka kematian ibu dan bayi yang dilansir Dinas Kesehatan Aceh itu. Namun, jika dibagi dengan jumlah penduduk dan luas wilayah, sebut Efendi, angka tersebut terbilang kecil.

“Kita selalu berupaya meningkatkan pelayanan kesehatan untuk kaum ibu melalui bidan desa, tenaga kesehatan di desa dan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas),” ujarnya.

Meski begitu, sambung Efendi, saat ini pihaknya kekurangan bidan desa sebanyak 178 orang. “Kita targetkan seluruh desa yaitu 852 di Aceh Utara ada bidan. Kta kurang 178 orang lagi. Kita sudah usulkan ke kementerian agar diberikan kuota menerima bidan dengan status Pegawai Tidak Tetap (PTT) tahun depan,” terangnya.

Ditambahkan, pihaknya juga memberikan pelatihan pada bidan, agar cekatan dalam melayani ibu bersalin. Sehingga, perlahan angka kematian ibu dan bayi di Aceh Utara bisa ditekan.

Tahun lalu, Aceh Utara menepati peringkat kematian ibu sebanyak 15 orang dan bayi 78 orang. Sedangkan tahun 2012, angka kematian ibu di kabupaten itu sebanyak 20 orang.

“Kami juga selalu mengingatkan agar bidan pro aktif mengunjungi ibu hamil. Agar bisa memonitor kesehatannya. Jika memang tak sanggup menangani, segera rujuk ke rumah sakit,” terang Efendi.

Dikatakan, pihaknya komit untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi di kabupaten itu. Layanan Puskesmas terus ditambah. “Jadi tenaga kesehatan di Puskesmas terus kita tambah agar bisa membantu bidan di Puskesmas menangani pasien yang akan melahirkan,” terangnya.

Kondisi Kritis

Sementara itu, Wakil Direktur Bidang Layanan Medis, Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara, Machrozal, menyebutkan umumnya pasien yang akan melahirkan datang dengan kondisi resiko tinggi. “Artinya, mereka datang ketika kondisinya sudah lemah. Idealnya, persalinan itu dipersiapkan. Sehingga datang ke rumah sakit itu dalam kondisi sehat, dan mudah ditangani,” sebutnya.

Dikatakan, selama ini, banyak ibu bersalin datang ke rumah sakit itu, setelah tak mampu ditangani di Puskesmas atau rumah sakit swasta lainnya. “Benar rumah sakit ini rumah sakit rujukan. Namun, alangkah baiknya, kami yang menangani sejak awal. Sehingga, dokter-dokter kami mengetahui kondisi detail pasien itu,” terangnya.

Saat ini, pihaknya memiliki tiga dokter spesialis kandungan. Jumlah itu dianggap mencukupi untuk melayani pasien yang akan melahirkan di rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Aceh Utara itu.

“Kalau ruang operasi, layanan ruang rawat inap dan dokter kami sangat mencukupi. Layanan it uterus kita tingkatkan. Sehingga, angka kematian ibu dan bayi di Aceh Utara bisa kita tekan,” pungkasnya.

Kini, publik menunggu kerja keras Pemkab Aceh Utara untuk menekan angka kematian ibu dan bayi. Apakah angka kematian kan terus mencari cerita lama tak berujung? Entahlah.

Ibu/Bayi Meninggal 2014 di Aceh
 1: Sabang           Ibu  1  :Bayi 2  orang
 2: Banda Aceh       Ibu  1  :Bayi 11 orang
 3: Aceh Besar       Ibu  2  :Bayi 29 orang
 4: Pidie            Ibu  1  :Bayi 24 orang
 5: Pidie Jaya       Ibu  0  :Bayi 7 orang
 6: Bireuen          Ibu  2  :Bayi 36 orang
 7: Lhokseumawe      Ibu  0  :Bayi 10 orang
 8: Aceh Utara       Ibu  9  :Bayi 32 orang
 9: Aceh Timur       Ibu  0  :Bayi 31 orang
10: Langsa           Ibu  0  :Bayi 17 orang
11: Aceh Tamiang     Ibu  4  :Bayi 26 orang
12: Bener Meriah     Ibu  1  :Bayi 4 orang
13: Aceh Tengah      Ibu  1  :Bayi 13 orang
14: Gayo Lues        Ibu  2  :Bayi 6 orang
15: Aceh Tenggara    Ibu  2  :Bayi 10 orang
16: Aceh Jaya        Ibu  0  :Bayi 6 orang
17: Aceh Barat       Ibu  2  :Bayi 17 orang
18: Nagan Raya       Ibu  1  :Bayi 14 orang
19: Aceh Barat Daya  Ibu  0  :Bayi 14 orang
20: Aceh Selatan     Ibu  0  :Bayi 10 orang
21: Aceh Singkil     Ibu  3  :Bayi 8 orang
22: Subulussalam     Ibu  1  :Bayi  7 orang
23: Simeulue         Ibu  0  :Bayi  24 orang



Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | By Safrizal
Copyright © 2012. :: cerita tentang aceh:: - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger