Mencoba Gulat Ala Aceh

Thursday, June 28, 20120 comments

Sorak - sorai riuh penonton yang menyaksikan pertandingan olah raga tradisional di lapangan bola kaki Blang Paseh kota sigli ketika itu, membuat sebahagian masyarakat terutama kaum tua yang berasal dari berbagai kecamatan yang kerap menggelar kegiatan yang sama pada hari itu, seakan mereka kembali kemasa muda mereka puluhan tahun lalu.

Betapa tidak pertandingan olah raga memperingati ulang tahun kemerdekaan republik indonesia memperebutkan Piala Bergilir Wakil Bupati Pidie 6 tahun lalu itu, bukanlah kompetisi sepak bola atau olah raga yang sejenis lainnya. Melainkan sebuah pertandingan olah raga tradisional yang sangat mereka gemari, bahkan mereka sendiri kerap pernah ikut terlibat didalamnya. Terutama ketika dulu mereka masih berusia muda, disetiap usai musim panen di desa mereka tiba. Pertandingan itu mereka sebut permainan Geudeu – Geudeu yang merupakan olah raga tradisional khas kabupaten pidie.

Bule mencoba geudeu-geudeu. Foto : Net
Tak ayal beberapa diantara mereka bahkan ada yang berteriak histeris ketika memberikan semangat kepada tim yang difavoritkan sedang beraksi di tengah lapangan. Darah tua mereka seakan menggelegak kembali ketika melihat aksi para petarung muda pada pertandingan yang digelar oleh Dinas Pemuda dan Olah Raga setempat itu.

Kata salah seorang tokoh Geude – geode yang ditemui, konon olah raga tradisional yang mirip dengan Gulat dua melawan satu, atau seperti Smack Down ini, dimainkan oleh masyarakat  pedesaan sebagai pelampiasan kegembiraan mereka pada saat malam purnama setelah uasai musim panen. Dengan beralaskan tumpukan jerami diareal persawahan yang baru dipanen tersebut, disanalah mereka mengadu kekuatan secara beregu dua melawan satu dengan aturan yang seadanya.

Aturan mainnya terbilang unik, setiap satu putaran permainan hanya melibatkan 3 orang petarung yakni 2 melawan 1orang. Petarung yang 2 orang dengan saling berangkulan tangan diwajibkan hanya boleh menjatuhkan lawan yang 1 orang dengan berupaya menangkap dan membantingnya tanpa boleh memukul.

Sedangkan petarung yang 1 orang boleh menendang dan memukul lawan dengan batasan dari bagian dada hingga kebawah. Biasanya pertandingan tersebut hanya melibatkan petarung dari 2 tim yang berlainan desa. Masing – masing desa biasanya menurunkan belasan orang petarungnya secara bergantian.

Bila pada putaran pertama tim A menurunkan 2 orang petarungnya melawan 1 orang petarung dari tim B,  maka pada putaran berikutnya tim A akan menurunkan 1 orang petarungnya melawan 2 orang dari tim B demikian seterusnya.

Sedangkan durasi waktu untuk satu putaran biasanya tidak ada ketentuan yang baku. Kecuali hanyalah sebatas petarung yang 2 orang mampu menjatuhkan petarung yang 1 orang.

Dan yang uniknya lagi dulunya pertarungan mereka itu digelar dengan tanpa dipimpin oleh seorang wasit. Sehingga kapan waktunya pertarungan itu akan selesai pun tidak ditentukan dengan batasan waktu tertentu. 

Menurut Penjabat Bupati dari Kabupaten tetangga yang merupakan salah seoarang yang sangat mengemari dan juga banyak mengetahui tengtang Geude – geode, yang ikut menurunkan timnya dalam event memeriahkan hari jadi Republik Indonesia tersebut ketika itu, olah raga tradisional Geudeu – Geudeu ini sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda sebelum Indonesia merdeka.

Dulu bahkan oleh sejumlah kaum bangsawan di Pidie, olah raga ini pernah dijadikan sebagai Prioritas pertunjukan resmi dilingkungan Meuligoe para Bangsawan setempat. Kata dia lagi, konon Geudeu – Geudeu adalah sebagai olah raga tradisi warisan para leluhur mereka yakni masyarakat Pidie.

Meski tidak meiliki aturan permainan yang baku, olah raga keras ini sangat digemari oleh masyarakat Aceh khususnya di Kabupaten Pidie. Yang menarik dalam permainan Geudeu – Geudeu ini, sering kali para pemainnya  mengalamai cedera patah dan sebagainya akibat pukulan dan bantingan, namun demikian, nilai – nilai sportivitasnya tetap selalu bisa dijaga dan  terjunjung tinggi.

Setelah saling pukul dan banting dalam permainan, selanjutnya mereka saling berpelukan usai pertandingan. Tanpa berujung dendam berkepanjangan, baik secara kelompok maupun perorangan.

M. Husen 46 tahun salah seorang pemain handal Geudeu - geudeu dari simpang tiga, baginya olah raga tradisional ini sangat menyenangkan. Permainan yang digelutinya sejak ia masih duduk dibangku sekolah dasar dulu itu, dapat memuaskan batinnya, paling tidak saat ia dapat mengalahkan lawan - lawannya.

Pasca pergolakan Politik yang melahirkan konflik berkepanjangan di Bumi Serambi Mekah puluhan tahun lalu, olah raga Tradisional khas Kabupaten Pidie ini mengalami kefakuman. Popularitasnya semakin surut, bahkan terkesan nyaris terlupakan.

Lalu pada tahun 1989 Saidi Amin salah seorang Guru olah raga dari jajaran dinas pendidikan kabupaten pidie, mengangkat olah raga Geudeu – Geudeu kedalam thema penulisan skripsinya.

Dalam penulisannya tersebut dia coba munculkan sejumlah aturan main yang baru bagi olah raga Geude – geode tersebut, sebagai tuntutan Modernisasi sesuai perkembangan zaman.

Selanjutnya berselang dua tahun kemudian tepatnya tahun 1991, untuk pertama kalinya olah raga tradisional ini dipertandingkan kembali. Respon masyarakat kabupaten pidie terhadap olah raga yang mirip Smack Down ini ternyata masih cukup besar. Buktinya ribuan orang datang berbodong – bondong untuk menyaksikannya.

Bahkan menurut Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga setempat ketika itu, usai menggelar pertandingan resmi lanjutan memperebutkan Piala Wakil Bupati Pidie ke I pada tahun 2006 lalu, dia juga mengaku pernah mengikut sertakan tim Geudeu – Geudeu kabupaten pidie ini dalam pekan olah raga tradisional di Jakarta.

Hasilnya sangat memuaskan, paling tidak kata dia upayanya tersebut telah melahirkan decak kagum bagi yang sempat menyaksikannya ketika itu.

Lantas wajar saja pada pertandingan Geude - geude dalam rangka memeriahkan HUT – RI  beberapa waktu lalu itu, animo masyarakat terhadap olah raga musim panen ini semakin tinggi. Oleh sebab itu pihak Dinas Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Pidie ketika itu berjanji akan terus berupaya keras untuk melertarikannya.

Janji sang kepala dinas pemuda dan olah raga kabupaten pidie itu, untuk melertarikan olah raga tradisional Geude – Geudeu dengan aturan permainnan yang lebih permanen tersebut, mendapat sambutan hangat terutama oleh Wakil Bupati Pidie Nazir Adam SE. Bahkan ketika itu Nazir Adam sang Wakil Bupati yang sebentar lagi akan habis masa jabatannya itu, sempat memberikan sinyal yang sangat positif dengan berjanji sepenuhnya akan mendukung program dimaksud.

Bahkan kata Wakil Bupati yang baru menjabat empat bulan lebih ketika itu juga sempat berharap, pada Event yang sama tahun – tahun berikutnya, kelompok peserta yang ikut bertanding diharapkan akan lebih banyak lagi. Paling tidak setiap kecamatan masing – masing dapat mengirimkan 1 timnya. Dengan demikian kata dia, upaya untuk melanjutkan pembinaannya menjadi lebih maksimal.

Bagi sebagian orang, olah raga tradisional Aceh yang hanya ada di Kabupaten Pidie ini adalah sebuah permainan yang sangat unik. Betapa tidak olah raga keras dengan resiko cidera yang amat tinggi ini, bisa dimainkan dengan aturan yang seadanya. Bahkan tanpa menimbulkan bias dendam yang berlanjut. Padahal dalam arena pergulatannya, para pemain sering terbius emosi yang kental untuk mengalahkan lawan tandingnya.

Oleh sebab itulah menurut Abdurrahman seorang  pemerhati Geudeu – Geudeu asal kecamatan sakti menyarankan, agar upaya melestarikan olah raga tradisional ini harus pula disertai dengan upaya melahirkan peraturan permainannya yang lebih kongkrit dan baku. Hal itu dimaksudkan selain untuk menambah daya tariknya, juga sebagai upaya memperkuat nilai – nilai Sportivitas olah ragawan sejati.

Untuk dapat mengembalikan popularitas olah raga tradisional ini seperti pada zaman kejayaan kesultanan Aceh dulu, salah seoarang anggota DPRK Pidie ketika itu Amri yang juga mantan pemain Geudeu – Geudeu asal simpang tiga bahkan berjanji, melalui lembaganya yakni Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten setempat, ia akan terus berupaya mendorang pemerintah daerah untuk melekukan pembinaan yang sistematis. Sebab menurutnya olah raga peninggalan para leluhur masyarakat Pidie ini haruslah tetap dilestarikan sebagai sebuah kebanggaan bagi generasi sekarang.

Kata Amri lagi ketika itu, jika semua pihak peduli dan serius untuk memikirkan pola pengembangannya, maka ia sangat optimis olah raga tradisional Geudeu – Geudeu ini akan kembali mencapai puncak popularitasnya di Kabupaten Pidie bahkan di seantero Aceh.
                               
Selain sarat dengan nilai – nilai sejarah, seni dan kebudayaan yang terkandung didalamnya, olah raga tradisional aceh Geudeu - Geudeu yang hanya ada di bumi Kabupaten Pidie ini, juga memiliki pesona simbolis dari karakteristik masyarakat aceh yang Fulgar.

Bahkan lebih dari sekedar itu, olah raga yang konon dimainkan malam hari saat bulan purnama setelah uasai musim panen ini, juga bisa dijadikan sebagai media pemersatu bagi utuhnya ikatan persaudaraan sesama warga masyarakat dari satu desa, kecamatan, atau bahkan Kabupaten yang satu  dengan yang lainnya.

Paling tidak dengan seringnya menggelar pertandingan  olah raga tradisional Geudeu – Geudeu ini dapat mengisyaratkan arti sebuah persatuan yang utuh. Bisa dibayangkan, ribuan orang dari berbagai kelompok masyarakat sekabupaten bisa berbaur menyatu dengan antusias yang sama dalam sebuah pertandingan olah raga tradisional, ini merupakan sebuah wahana yang paling strategis untuk mengalang persatuan dan kesatuan bangsa.

Tapi apa lacur yang terjadi sekarang ini, pada saat geliatnya kembali membias dan mendapat sambutan hangat dari sejumlah pihak di Kabupaten Pidie ini, pesonanya kembali memudar seiring berjalannya waktu. Janji manis dari seorang Wakil Bupati yang sebentar lagi akan habis masa jabatannya itu tak sempat terrealisasi.

Harapan pak Abdurrahman sang pemerhati Geude – geude asal kecamatan Sakti pun menjadi tak berujung. Bahkan upaya Amri untuk mendorong Pemerintah daerah dalam rangka pembinaan yang sistematis bagi pengembangannya pun menjadi kandas, seiring lengsernya Amri sebagai anggota DPRK. (sumber pemkab pidie)


Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | By Safrizal
Copyright © 2012. :: cerita tentang aceh:: - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger