Arun

Monday, November 3, 20140 comments

PT Arun NGL, 15 Oktober 2014, mengakhiri ekspor gas ke Korea Selatan dan Jepang. Pada Desember mendatang, ratusan karyawan perusahaan yang beroperasi sejak 1987 itu, tak berkantor lagi. Perusahaan itu akan beralih menjadi terminal gas di bawah bendera PT Perta Arun Gas.

Meski telah mengakhiri ekspor gas, tatusan kepala keluarga, eks Blang Lancang menuntut ganti rugi lahan. Konon, puluhan tahun lalu, lahan dimana pabrik Arun berdiri, di situlah perkampungan warga. Lahan itu strategis. Langsung menghadap ke laut lepas. Hingga sangat cocok dibangun pabrik pengolah minyak dan gas.

Pemerintah pun menetapkan lokasi itu sebagai kilang Arun. Dampaknya, lahan warga dibeli, dengan satu janji, akan diberikan perkampuangan di Ujong Pacu. Janji itulah yang kini dituntut oleh anak, cucu dan cicit pemilik lahan.

Dua tahun lalu, Pertamina dan Kementerian Keuangan telah menyahuti tuntutan itu. Janji yang dilontarkan, warga eks Blang Lancang akan diberikan rumah dan tanah serta fasilitas umum di Ujung Pacu, Lhokseumawe. Tahun bergulir. Janji tinggal janji tak kunjung di tepati. Mereka eks Blang Lancang kembali beraksi. Berteriak menuntut hak. Bagi masyarakat Aceh, menuntut hak sesuatu keniscayaan dan mulai untuk diperjuangkan.

Dua bulan menjelang akhir tahun, PT Arun telah menyerahkan aset ke Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan. Mungkin, Arun beranggapan, Pemerintah Aceh tak mampu mengelola aset itu. Pasalnya, tiga turbin listrik yang dihibahkan ke PT Arun lima tahun lalu, hingga kini terpapar terik matahari. Teronggok dan tak difungsikan.

Langkah itu berbanding terbalik dengan langkah yang dilakukan ExxonMobil. Perusahaan yang bermarkas di Amerika Serikat itu, menghibahkan hampir seluruh asetnya untuk Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan Universitas Malikussaleh. Aset perumahan digunakan Unimal sebagai ruang perkuliahan. Sedangkan sebagian aset ex Bachelor Camp ExxonMobil digunakan untuk kantor dinas. Sebagian lagi dijarah.

Sejatinya, Arun harus menjadi pusat ingatan warga Aceh. Bahwa, di bawah perut bumi itu, di eks Blang Lancang, diambil kekayaan alam dan dijual ke luar negeri untuk menghidupi bangsa ini.

Arun tinggal nama? Bisa jadi. Kita tunggu, apakah Arun meninggalkan aset monumental untuk Aceh. Atau aset itu akan menjadi kenangan tak berwujud. Hanya dalam angan semata.

Lebih bijak, Arun menyerahkan aset pada lembaga dan tangan yang tepat. Saya tak ingin menyebutkan nama lembaga yang menurut saya cocok sebagai penerima aset Arun. Arun telah beroperasi puluhan tahun di Aceh. Memiliki pengalaman bekerjasama dengan banyak pihak. Tentu, Arun punya penilaian sendiri lembaga mana yang cocok dan layak mendapatkan aset itu. Agar bermanfaat untuk anak cucu. [masriadi sambo]



Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | By Safrizal
Copyright © 2012. :: cerita tentang aceh:: - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger