LEGENDA ’KOTA NAGA’ TAPAK TUAN

Wednesday, June 27, 20120 comments

SIANG ITU, awal Desember lalu, langit di Tapaktuan begitu cerah. Tak ada mendung yang menggantung. Geliat aktivitas masyarakat seperti biasa. Semuanya berjalan normal. Tentunya, geliat ini tidak terlihat dua tahun lalu, sebelum MoU damai Aceh antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka ditandatangani. Ya, paskapenandatanganan di Helsinki itu, Tapaktuan kembali hidup.

Kota ini menyimpan legenda tentang asal muasal nama Tapaktuan. Kota Naga, sebutan untuk kota itu bukan tidak memiliki sejarah. Legenda inilah yang diburu banyak ahli sejarah ke kota yang berkelok-kelok dikaki bukit dan didepan pantai Samudera India ini. Jam menunjukkan pukul 10.00 Wib saat kami mengunjungi rumah Nasiruddin Gani, salah seorang ahli sejarah kota tersebut, 30 Nopember 2007 lalu. Usianya 60 tahun. Namun, gaya bahasa Wakil Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Selatan ini lugas dan jelas. Senyumnya menyambut kedatangan kami dirumahnya yang sederhana tepat dibelakang Kota Tapaktuan.

Nasiruddinpun mulai bercerita. Alkisah, dizaman dahulu kala, ribuan tahun lalu, di Aceh Selatan hidup dua ekor naga yang sangat perkasa dan memiliki ilmu sakti mandraguna. Sepasang naga ini, memiliki anak yang bernama Putri Naga. Putri ini cantik jelita. “Saya mendengar cerita ini ketika waktu remaja, dari Teungku Imam Ibrahim (Imam besar Mesjid Tapaktuan) kala itu dan Patih Muhammad Syam, orang yang mengerti sejarah kota ini,” sebutnya. Lelaki ini mengenakan kemeja lengan pendek warna coklat susu. Nasiruddin melanjutkan ceritanya.

Putri nan rupawan ini, katanya didapat dari perebutan sepasang Naga (Jantan dan Betina) dengan orangtua sang putri. Legenda klasik ini terus merakyat di Tapaktuan. Secara turun temurun, legenda itu terus berkembang. Bahkan remaja yang hidup di zaman modern ini, di Tapaktuan juga mengetahui cerita ini.

Konon ceritanya, suatu ketika – tidak ada masyarakat yang mengetahui tahun pasti, sepasang naga tengah berjalan-jalan menyusuri lautan yang bergelombang. Si Naga jantan tiba-tiba berhenti, tertegun memperhatikan sebuah titik hitam di tengah laut. Titik hitam itu menarik perhatiannya. Lamat-lamat titik hitam itu mendekat ke arah sang naga. Gelombang laut yang membawanya mendekat. Si Naga Jantan dan Betina terus memperhatikan titik hitam itu.

Ketika titik hitam itu semakin mendekat, Sang Naga terjun alang kepalang. Titik hitam itu adalah tiga sosok manusia, berada lam perahu kecil yang diombang-ambingkan gelombang laut Aceh Selatan.

Ketiga manusia itu adalah sepasang suami-istri bersama bayinya. Bayi mungil ini berada dalam pangkuan ibunya. Mereka sengaja datang ke daerah itu bermaksud mencari rempah-rempah yang keberadaannya sudah cukup dikenal. Aceh Selatan sejak zaman Belanda menjajah daerah itu memang dikenal kaya akan hasil alam. Nilam, Cengkeh dan Pala merupakan tumbuhan yang dominan disana. Bahkan tumbuhan itu hingga kini menjadi komuditi unggulan daerah itu.
***
Seteguk teh manis hangat membasahi kerongan Nasiruddin. Lelaki murah senyum ini bertanya pada saya. ”Bagaimana, sampai disini, anak yakin tidak,” tanyanya pada saya. Saya tersenyum dan mengatakan cerita ini menarik.

”Kalau mau merokok, silahkan. Saya lanjutkan ceritanya nanti, ”sebutnya sambil meletakkan gelas teh diatas meja kaca diruang tamu rumahnya. Di dapur, cucu-cucu Nasiruddin terlihat sibuk bermain.

Lelaki yang telah ditumbuhi uban dikepalanya inipun bercerita, setelah melihat ketiga anak manusia itu, Sepasang Naga sakti yang bisa melakukan terhentak. Lalu, dia meniup perahu yang sudah sangat dekat itu. Sekali tiup saja, perahu kecil itu terombang-ambing dan tenggelam ditelan ombak deras. Kemudian Naga Betina, menjulurkan lidahnya menangkap putri kecil yang terhempas dari perahu itu.

Pasangan Naga ini sangat senang mendapatkan putri berbentuk manusia. Konon naga itu memang  sudah lama mengidam-idamkan seorang putri. ”Setelah selamat dan menepi kedarat orangtua si Putri begitu sedih kehilangan buah hatinya dan tidak tahu ke mana putrinya menghilang. Mereka berpikir bahwa anak perempuan kesayangannya sudah hilang tenggelam dalam lautan dan badai atau hilang entah ke mana,” ujar Nasiruddin tersenyum.

Matahari mulai terik. Jam dinding berdentang 12 kali. Sudah dua jam Nasir bercerita. Lalu, pria ini menarik nafas dalam-dalam. Disandarkannya tubuhnya ke kursi model jepara itu. Dia melanjtkan ceritanya. Akhirnya sepasang naga membawa putri mungil hasil rampasan mereka ke sebuah pulau, pulau ini terletak di Batu Hitam, Kecamatan Tapaktuan Aceh Selatan.

Tulisan Kota Naga di Pusat Kota Tapak Tuan, Aceh Selatan
Kedua Naga itu sangat menyanyangi putri pungut mereka. Bahkan, Naga betina selalu memeluk putri kecil dalam cengkeramnya agar tidak hilang. Sang Putri kecil, setelah sadar dari pingsannya, menangis sejadi-jadinya begitu melihat sosok Naga aneh dan menyeramkan. Si Putri kecil Ia takut. Diapun terus menangis sekuat-kuatnya. Naga betina pusing memikirkan tangisan putri itu. Terpaksa dia menggunakan kesaktiannya untuk menenangkan si Putri agar tak mengeluarkan air mata lagi.
            Putri ini diberi nama Putri Bungsu. Mereka sangat mengasihi putri ini. Bahkan Naga Jantan menciptakan tempat bermain nan indah di gunung itu. Semua buah-buahan dan minuman tersedia disana. Semua itu dilakukan agar Putri Bungsu betah tinggal bersama mereka. ”Putri inilah yang kemudian disebut Putri Naga,” ungkap Nasiruddin.
Waktu terus bergulir. Putri Bungsu merangkak remaja. Dia menetap bersama naga disebuah gua yang dalam. Suatu hari, sang Putri Bungsu secara tak sengaja mendengar obrolan sepasang Naga. Dari luar gua dia terus menyimak percakapan itu. Dia tersentak. Sadar, bahwa dirinya bukan keturunan naga. Dia memiliki orang tua yang juga berasal dari bangsa manusia.
Niat untuk melarikan diripun muncul dalam benaknya.  Putri Bungsu tidak gegabah. Dia bersabar untuk menemukan waktu yang tepat melarikan diri dari gunung itu. Dia takut akan kesaktian kedua naga tersebut.
***
Waktu yang dinantikanpun tiba. Dari atas gunung, Putri Bungsu melihat sebuah kapal berlayar dibawah kaki gunung itu. Gunung ini memang tepat berada di depan laut. Naga Jantan kala itu sedang tertidur dipinggir laut. Perlahan dia mengangkat kaki, sedikit menjinjing agar langkahnya tidak didengar Naga Jantan.

Perahu layar semakin dekat. Dia bimbang. Teringat akan kesaktian naga tersebut. Jarak Naga Jantan beristirahat dengan laut sangat dekat. Khawatir ketahuan, diapun mengurungkan niat untuk kabur dari gunung itu.

Siang-malam Putri nan cantik jelita itu mencari akal. Ide cemerlangpun muncul dikepalanya. Satu dia mengajak pasangan Naga berjalan-jalan menyusuri pantai di pulau itu. Naga kelelahan dan tertidur pulas. Putri Bungsu tak menyianyiakan kesempatan emas itu.  Kakinya diseret ke atas sebuah bukit kecil yang dekat dengan laut. Agar dia bisa melihat perahu yang melintas.

Jarang sekali perahu yang mahu mendekat ke pulau itu. Namun hari itu keberuntungan Putri Naga. Sebuah perahu kecil merapat. Dia melambaikan tangan. Awak perahu ada yang menyapanya.

”Perahu inilah yang membawa putri bungsu pergi,” tegas Nasiruddin. Putri bungsu naik ke atas kapal dan ikut bersama awak kapal itu. Naga yang baru terbangun dari tidur, terkejut setengah mati. Putri kesanyangannya telah pergi. Dalam benaknya, Naga berujar, pasti perahu itu yang melarikan putriku. Dia mengejar perahu yang berjalan sangat pelan itu.
***
Lalu apa hubungan Putri Bungsu, Naga dan Tuan Tapa? Nasiruddin melanjutkan kisahnya. Sepasang Naga itu mengejar perahu tersebut. Sementara itu, di Gua Kalam, tidak jauh dari bukit itu, seorang manusia sedang bertapa. Dia tersentak dari pertapaanya. Seakan dia sadar akan ada bencana besar dibumi. Inilah Tuan Tapa.

Dia keluar dari gua tersebut. Lalu menatap ke laut lepas. Terlihat sepasang Naga dengan kemarahan puncak sedang mengejar sebuah perahu nelayan. Tuan Tapa terkenal dengan tongkat saktinya.

Dihadangnya Naga yang sedang mengejar perahu. Permuluhan hebatpun tak dapat dihindarkan. Dari mulut kedua Naga menyemburkan api. Tuan Tapa menghela tongkatnya hingga mengeluarkan air deras dan memadamkan api Naga. Tak mau kalah, sang Naga jantan pun mengeluarkan ribuan anak panah berapi yang diarahkan ke Tuan Tapa. Tuan Tapa bisa menghindari serangan itu. Tak ketinggalan, Naga betina juga mengeluarkan pisau-pisau beracun yang juga berhasil dielakkan Tuan Tapa.

Karena terus-menerus mengeluarkan kekuatannya, kesaktian kedua Naga mulai berkurang. Kesempatan itu dimanfaatkan Tuan Tapa untuk menyerang lebih dahsyat. Dengan tongkat sakti miliknya, Tuan Tapa mengayunkan benda panjang itu ke arah dua Naga. Naga betina, mencoba menghindar dengan cara melarikan diri menjauhi Tuan Tapa. Saat lari kencang tak tahu arah itulah sang Naga betina menabrak sebuah pulau hingga terbelah pulau. Pulau terbelah ini kemudian oleh masyarakat Aceh Selatan disebut sebagai Pulau Dua, di Kecamatan Tapaktuan Aceh Selatan

Sementara Tuan Tapa mengejar sang Naga jantan yang sudah terluka akibat serangan ‘tongkat sakti’. Tuan Tapa memukul tongkat saktinya bertubi-tubi ke tubuh Naga jantan hingga hancur berkeping-keping dan jatuh terjerembab ke tanah. Tubuh Naga jantan hancur berserakan dan darah berceceran yang menyebar memerahkan tanah, bebatuan dan lautan.

Lanjut Nasiruddin, bekas tempat ceceran darah Naga itu kini masih terlihat berupa tanah dan batu yang memerah. Kini disebut dengan Tanah Merah. Sedangkan hati sang Naga, yang pecah dan terlempar menjadi beberapa bagian akibat pukulan tongkat sakti Tuan Tapa, peninggalannya hingga sekarang masih terlihat berupa batu-batu berwarna hitam berbentuk hati. Daerah ini kemudian diberi nama Desa Batu Hitam, masih dikecamatan yang sama.

Di tempat pertempuran Naga dan Tuan Tapa, masih meninggalkan jejak berupa tongkat. Tongkat mirip baru itu, dipercayai sebagai tongkat  Tuan Tapa.
Bagaimana nasib sang Putri? Beberapa tokoh masyarakat di daerah itu menceritakan, dalam legenda tersebut dikisahkan sang Putri akhirnya kembali hidup normal layaknya manusia dan hidup bahagia bersama kedua orangtuanya. Putri Bungsu kemudian mendapat julukan sebagai ‘Putri Naga’.

Karena kisah ini pula, orang menyebutkan Aceh Selatan sebagai Kota Naga. Bahkan, jika memasuki kota Tapaktuan pemerintah Daerah Aceh Selatan mengukir gambar naga tepat di dinding pinggir jalan. Sekitar seratus meter dari arah timur kantor Bupati Aceh Selatan.

”Anak boleh percaya boleh tidak. Mungkin kalau ditanya ke masyarakat lain, cara penyampaiannya yang berbeda,” sebut Nasiruddin. Lalu, saya memastikan ucapan Nasiruddin Gani. Saya temui Zamzami Surya mantan Kabag Kebudayaan Dinas Pariwisata Aceh Selatan. Pria berbadan kecil ini, mengakui kebenaran cerita Nasiruddin. Zamzamy yang kini menjabat Kepala Dinas Bapedalda Aceh Selatan tersenyum saat saya menanyakan kisah Kota Naga.

”Sebenarnya, ceritanya sama. Cara penyampaiannya yang berbeda. Yang pasti dalam semua cerita yang disampaikan tokoh adat atau masyarakat biasa tentang legenda ini tak terlepas tiga hal, yaitu ada dua ekor naga, perahu, tuan tapa. Putri Bungsu. Lalu, ada pertempuran,” sebutnya sambil tersenyum.

Satu lagi, lanjut Zamzamy, lihatlah bukit itu. Tangannya menunjuk kesebalah timur kota Tapaktuan. Sebuah gunung menjulang. ”Perhatikan bukit itu. Disitulah putri dan naga itu tidur,” sebutnya. Bukit itu mirip Putri yang sedang tidur. Tampak rambut terurai dengan buah dada yang terlihat jelas. Ini juga disebutkan oleh Nasiruddin Gani.

Bila cuaca cerah, gambaran bukit seperti putri tidur itu terlihat jelas. ”Apalagi jika bulan purnama, semakin jelas,” sebut Zamzamy Surya. Nama Putri Bungsu menjadi ikon wisata tersendiri di Tapaktuan. Bahkan, sebuah hotel yang berada di pusat kota ini diberi nama Putro Bungsu (Putri Bungsu) oleh pemiliknya. [masriadi sambo]
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | By Safrizal
Copyright © 2012. :: cerita tentang aceh:: - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger