Melanjutkan Pendidikan di Usia Senja

Friday, June 6, 20140 comments

SEJAK setahun terakhir, Abi kuliah lagi Nak. Melanjutkan pendidikan ke program pasca sarjana jurusan Komunikasi Penyiaran Islam di salah satu sekolah tinggi negeri provinsi ini. Umimu, melanjutkan pendidikan lebih dulu. Kini dia semester tiga dan Abi semester dua.
            Tiga hari dalam sepekan, dari Jumat sampai Minggu Abi menghabiskan waktu di kampus pasca sarjana. Mendiskusikan pola komunikasi dan pengetahuan tentang komunikasi Islam maupun ilmu komunikasi secara umum.
Namun, hari ini terasa ada yang aneh di ruang kelas Abi. Biasanya, kelas ini selalu ramai dengan “fatwa” segar dari Affanuddin. Kami memanggilnya Pak Cik. Usianya sekitar 62 tahun. Seorang lainnya, Tengku Ramli, Imam di Masjid Islamic Center Lhokseumawe, usianya sekitar 60 tahun.
Dua tokoh tua ini selalu menyegarkan suasana diskusi di ruang kelas. Namun, hari ini keduanya tak hadir. Seakan ada yang hilang Nak. Kami sangat salut pada dedikasi mereka menuntut ilmu.
Pada saat pengumuman lulus tes pasca sarjana, kami menanyakan buat apa ijazah magister bagi seorang Affanuddin dan Tengku Ramli?
“Biar anak saya tahu, bahwa selama ini saya selalu menasehati anak-anak jika diberi waktu oleh Allah maka tuntutlah ilmu. Tak mengenal waktu, tempat dan usia. Ini sebagai pembuktian, bahwa saya juga masih menuntut ilmu,” jawab Pak Cik Affanuddin.
Dia menyebutkan, kini dia telah memiliki cucu yang sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Dia ingin, cucunya meniru jejaknya. Beruntung, seluruh anaknnya menyelesaikan pendidikan sarjana.
“Sehingga, cucu saya yakin apa yang saya sampaikan. Bahwa, saya juga masih menuntut ilmu meski untuk menyerapnya saya kepayahan. Saya mulai susah mencerna pelajaran. Maklum, faktor U (usia),” harap Pak Cik Affanuddin sambil menyerumput teh hangat di kantin depan pasca sarjana.
Lain lagi Tengku Ramli. Dia memiliki tiga anak, ketiganya lulusan timur tengah dan mengantongi gelar magister. Dua menantunya juga menamatkan pasca sarjana dari universitas bergengsi di Indonesia.
“Saya tak mahu kalah dengan anak dan menantu. Saya ingin buktikan, bahwa saya juga masih mau kuliah. Belajar itu wajib hukumnya. Meski pun dosen-dosen yang mengajarkan saya umurnya jauh dibawah saya,” kata Tengku Ramli.
Menurut Tengku Ramli, istirinya juga ingin kuliah lagi. Namun, karena kondisi kesehatan kurang mengizinkan dan menderita penyakit pada persendian kaki, maka istrinya membatalkan niat kuliah.

Dua sosok ini menginspirasi kami. Semangatnya untuk kuliah luar biasa. Bahkan, dia jarang tidak hadir. Jika tak hadir, pasti kondisi kesehatannya kurang baik.

Nak, 17 bulan lalu, Umimu meminta untuk melanjutkan pendidikan ke program pasca sarjana ekonomi manajemen di salah satu universitas negeri provinsi ini. Tiga kali Abi menanyakan apakah dia siap kuliah lagi. Karena, ketika kuliah, dia harus merelakan sedikit waktunya terkuras untuk menulis makalah, paper dan lain sebagainya. Artinya, selain merawatmu, bekerja kini waktunya terkuras untuk kuliah dan mengerjakan tugas.
“Demi ilmu, siap kurang tidur,” jawab Umimu mantap saat itu.
Maka, Abi menyetujui Umimu kuliah. Kami ini tidak mendapatkan beasiswa dari pihak mana pun Nak. Artinya, kami menghemat sedemikian rupa dari gaji yang tak seberapa untuk membayar biaya semester dan keperluan kuliah lainnya. “Kita kencangkan ikat pinggang Bi. Kita kuliah sama-sama,” begitu kata Umimu. Kencangkan ikat pinggang, berarti kami harus menghemat Nak. Tidak membeli barang yang kurang diperlukan, apalagi yang tidak diperlukan sama sekali.
Maklum, biaya kuliah lumayan Nak. Kami menyetor uang semester sebesar 11 juta, rinciannya tujuh juta untuk Umi dan sisanya untuk Abi. Ini perjuangan menuju yang terbaik Nak. Rasul sudah menyebutkan tuntutlah ilmu ke negeri Cina dan sampai liang lahat.
Tak ada batas waktu menuntut ilmu. Lihatlah Affanuddin dan Tengku Ramli. Meski di usia senja, mereka tetap semangat menambah pengetahuan, menyimpannya dalam rekam ingatan dan membagikannya pada keluarga dan masyarakat.
Ilmu yang kita peroleh itu rezeki dari Tuhan. Jika tak dibagikan maka tak ada artinya. Jangan pernah berpikir ilmumu akan bertambah jika engkau menyimpannya hanya dalam rekam ingatan. Berbagilah. Toh, ilmumu tak berkurang. Bahkan, bertambah pahala. Karena menyebarkan kebajikan bagian dari ibadah.
Dua sosok teman kuliah Abi itu paling rajin berbagi pengetahuan Nak. Keduanya memiliki pemahaman agama yang mendalam. Kami mendiskusikan dari persoalan akidah sampai muamalah. Begitu setiap tiga hari selama sepekan.
Sebaliknya, keduanya tak segan bertanya pada kami yang lebih muda, jika beliau tak mengerti. Kami pun, dengan senang hati menjelaskannya. Nak, Abi dan Umi kau mengikuti jejak dua sosok itu Nak. Abi dan Umi berusaha memberikan pendidikan agama dan pendidikan formal terbaik untukmu. Jika kami berhasil menyandang gelar magister, kami berharap kau bisa menyandang gelar doktor. Menamatkan pendidikan strata tiga, baik dalam atau luar negeri.
Kami tak akan membatasi kau pada jurusan tertentu Nak. Bagi Abi dan Umi, semua ilmu itu baik. Tergantung siapa dan bagaimana menggunakannya. Jika kau menyukai pertanian, maka dalamilah ilmu pertanian. Jika kau menyukai dunia medis, maka jadilah tenaga medis atau dokter yang handal. Melayani penuh belas kasih. Bukan melayani dengan raut wajah kusam, masam dan kumal. Semua ilmu itu baik dan kamu harus memilih salah satu diantara ratusan bidang ilmu. Agar pemahamanmu mendalam tentang satu ilmu. Sehingga, engkau bisa menjelaskan lebih detail pada orang lain tentang ilmu yang engkau pelajari.
***
            Jika pun akhirnya kau memutuskan memilih ilmu tertentu untuk kau pelajari, maka cintailah ilmu itu. Dulu, saat aku dinyatakan lulus di jurusan Ilmu Komunikasi, jujur saja Nak, Abi bahkan tak tahu ilmu ini bicara tentang apa. Ceritanya, saat Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Abi mendaftar pada jurusan Ilmu Administrasi Negara dan Ekonomi Manajemen. Dua jurusan itu menempati rangking tertinggi di masing-masing fakultas. Saat pengumuman, Abi mencari nama pada dua jurusan itu, hasilnya tak ada Nak. Abi dinyatakan tidak lulus pada dua jurusan yang Abi sukai.
            Berkali-kali Abi mencari nomor ujian dan nama Abi, tetap saja tidak ada di dua jurusan itu. Seorang teman, Abdul Manan namanya, yang baru Abi kenal hari itu, mengajak Abi ke samping kanan kampus. Pada dinding di samping itu tertulis lulus cadangan. Sedangkan yang lulus murni ditempel di depan kampus. Nah, disitu tertulislah nama Abi pada jurusan ilmu komunikasi.
            Saat pulang ke rumah, Adongmu bertanya ilmu komunikasi itu mempelajari apa? “Ya mempelajari cara ngomong Mak,” jawabku saat itu. Adongmu tertawa terpingkal-pingkal. Beliau mengerti Abi pasti tak paham benar tentang jurusan itu. Satu pesannya, kuliah yang rajin, benar dan serius mendalami ilmu yang dipelajari.
            Hari pertama kuliah, seorang dosen bercerita pangsa pasar lapangan kerja ilmu komunikasi. Dijelaskan, alumnus ilmu komunikasi sebagian besar bekerja di perusahaan atau kantor pemerintah khususnya bidang hubungan masyarakat, penyiar radio, jurnalis atau anchor televisi. Mendengar itu, hampir saja hari itu Abi langsung pulang ke rumah dan tak mau kuliah lagi. Karena, saat itu Abi sudah menjadi penyiar di salah satu radio swasta. Membawakan program siaran remaja.
            Beruntung Abi mendengar nasehat Adongmu. Beliau mendorong agar Abi mencoba dua semester, tapi catatannya harus belajar mencintai jurusan itu. Jika tidak cocok juga, maka silahkan pindah jurusan.
            Memasuki semester kedua, Abi mulai sangat menyenangi jurusan ini. Saat itu lah, Abi mulai belajar menulis nak. Abi spesifik mempelajari jurnalistik, sebagian teman mempelajari broadcasting, sebagian lainnya mempelajari public relation.
            Karena Abi mencintai dunia tulis menulis pula, Abi mulai bekerja sebagai penulis tetap cerita pendek dan artikel yang isunya tentang gerakan mahasiswa, pemuda dan lain sebagainya di salah satu tabloid lokal. Honornya, jauh lebih besar dibanding uang bulanan yang dikirim Adongmu Nak. Praktis, memasuki semester dua, Abi minta Adongmu menghentikan kiriman belanja untuk Abi. Bahkan, sejak saat itu, jika ada uang lebih sedikit, Abi memberikan untuk Adong.
            Cerita ini kutuliskan, agar kau tahu, bahwa menuntut ilmu itu harus serius Nak. Tekad bulat. Tak bisa separuh-separuh. Sehingga, hasilnya memuaskan. Engkau akan menjadi orang yang ahli pada bidang tertentu. Bukan tahu banyak bidang, namun sayangnya hanya permukaannya saja. Hanya dikulit ari, bukan masuk ke isi. Beruntunglah orang-orang yang mengetahui detail satu ilmu tertentu dan berbagi dengan orang lain tentang ilmu itu. Menyebarkan kebajikan untuk sesama. Karena ilmu adalah anugerah dari sang pencipta. Dititipkan pada kita untuk disebarkan pada seluruh manusia.
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | By Safrizal
Copyright © 2012. :: cerita tentang aceh:: - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger