Mengumpulkan Lembar Kertas ke Tanah Suci

Friday, June 6, 20140 comments

SETIAP Abi melihat poster, stiker, berita tentang Mekkah, Abi selalu teringat akan Adongmu Nak. Dulu, ketika Abi duduk di kelas dua SMP, Abi pernah menjadi panitia pengangkut barang Jamaah Calon Haji (CJH) di kecamatan. Kami sekitar 20 orang berkumpul di masjid kecamatan. Sebagian memapah CJH yang ringkih dan sulit berjalah ke dalam bus. Sebagian lagi, mengangkut barang-barang bawaan CJH, seperti tas kecil dan koper setinggi satu meter.
            Mereka mengenakan pakaian serba putih dan selempang ukuran setengah meter di sampir ke pundak. Pada selempang itu ditulis nomor kelompok terbang (Kloter), embarkasi dan asal daerah mereka. Mereka berdiri rapi, berjejer menuju bus yang membawanya ke Bandara Polonia Medan. Saat itu, belum ada penerbangan lewat bandara di Aceh.
            Ratusan saudara mereka berjejer di luar masjid. Bersalaman. Ada juga yang menangis. Meminta agar dipanggil namanya ketika sampai di tanah suci. Berharap, mereka juga bisa menunaikan rukus Islam itu.
            Saat itu, aku menuntun seorang nenek ringkih ke bus. Berjalan pelan dan tertatih. Saat itu pula aku teringat Adongmu, Ibuku Nak. Abi ingin agar Adong juga bisa berangkat ke tanah suci.
            Sejak saat itu, Abi bertekad, satu hari nanti akan mengumpulkan uang untuk membayang Ongkos Naik Haji (ONH) yang naik dari tahun ke tahun untuk Adongmu.
            Belakangan, ketika Abi semester delapan kuliah, film Emak Ingin Naik Haji diputar di sejumlah bioskop tanah air. Abi sempat menyaksikan film itu bersama seorang teman di Medan. Maklum, di kota kita tak ada bioskop Nak.
            Film itu benar-benar menggetarkan jiwa Abi. Selama ini, sudah belasan tahun Abi berniat menghajikan Adongmu, namun belum terkabul. Bahkan, saat menonton film itu, Abi belum bekerja. Masih mahasiswa semester akhir yang sedang menyusun skripsi.
            Setelah Abi menikah, Abi berdiskusi dengan Umimu. Umi setuju kami akan menabung uang buat Adong berhaji. Selembar demi selembar kertas rupiah itu kami kumpul dari gaji Abi yang tak seberapa. Pelan-pelan, tabungan itu lumayan. Jika dibayarkan untuk berhaji Adong, maka sudah cukup Nak.
            Abi dan Umi semangat membujuk Adong agar ingin berhaji. Adong senang bukan kepalang. Menitikkan bulingan jernih di pipinya.
            “Nak. Adong ingin naik haji. Namun, Adong lebih ingin melihat kalian membeli rumah. Tak ada gunanya Adong berhaji, sedangkan kalian masih tak memiliki rumah dengan uang belanja yang pas-pasan,” kata Adongmu.
            Kami mengalah. Tak lagi membujuk Adong. Namun, kami bertekad agar segera membeli rumah. Maka, awal tahun 2014, kami membeli sepetak rumah kecil di lorong buntu. Lebar lorong itu hanya satu meter Nak. Tak bisa dilalui mobil. Tak apalah Nak. Terpenting, Abi membeli rumah dan dengan begitu Adong pasti mau berhaji.
            Rumah tiga kamar dengan dinding papan itu kami beli dengan harga lumayan murah. Bisa dicicil enam kali pada pemiliknya. Adong sangat menyukai rumah ini.
            “Mak, kami sudah punya rumah. Doakan, agar kami mudah rezeki. Agar kami bisa menabung lagi untuk ongkos mamak naik haji,” kata Abi saat duduk santai bersama Adong di teras rumah.
            “Emak selalu mendoakan kalian Nak. Pasti, satu hari, jika Allah menghendaki, mentakdirkan Emak ke tanah suci, pasti itu terjadi. Percayalah Nak, semuanya sudah ditakdirkan sama sang pencipta,” jawab Adong.
            Mendengar jawaban itu, Umimu sangat bahagia.  Kami pun mencoba mengumpulkan lembar demi lembar rupiah lagi. Gaji Abi dan Umi hanya cukup buat keperluan kita selama sebulan Nak. Tidak bisa menabung untuk Adongmu berhaji.
            Namun, Abi sudah tekadkan, program menabung untuk ONH harus terus berlanjut. Caranya, Abi menulis cerita pendek, mengikuti lomba penulisan dan mengirimkan naskah ke penerbit. Honor tulisan Abi itu kami kumpulkan untuk ONH. Tidak kami kurangi sedikitpun. Royalti dari buku Abi yang terbit awal tahun 2014, juga Abi tabung buat Adong berhaji.
            Bahkan, secara khusus, Umimu membuatkan nomor rekening bank yang baru khusus untuk menyimpan uang hasil lomba, honor cerita pendek Abi yang dimuat di media, serta royalti novel Abi. Sampai sekarang, nominal di buku rekening itu masih pendek Nak. Deretan angkanya masih kecil-kecil. Tidak berderet panjang, menandakan nominal rupiah yang besar.
            Rekening khusus ini tujuannya agar uang itu disimpan khusus. Sehingga, tidak digunakan untuk membeli kebutuhan harian, seperti beras, sayuran, ikan termasuk pempersmu. Uang itu aman di buku rekening berwarna krem Nak. Sebegitu gigihnya Umimu mengatur keuangan, demi Adongmu berhaji.
            “Ya Allah, kami mohon kabulkanlah permintaan kami, lapangkanlah rezeki kami, agar kami bisa menghajikan orang tua kami.” Doa ini yang Abi panjatkan setiap simpuh sujud.
            Tahun ini, kami ingin mendaftarkan Adong berhaji. Meski sekarang belum pundi-pundi rupiah belum mencukupi, kami yakin Allah maha mengabulkan doa. Maha member segelanya. Percayalah Nak. Allah mendengarkan doa kita. Doa terbaik untuk orang terbaik.
            Setelah Adong berhaji, barulah Andungmu, ibu dari Umimu yang kita programkan berhaji. Nak, Abi dan Umi ingin menjadi anak yang berbakti. Kami ingin, agar orang tua kami bisa menunaikan ibadah di tanah suci. Melengkapi rukun Islam yang telah dilaksanakannya selama ini.
            Setelah orang yang membesarkan kami berhaji, barulah kami menunaikan ibadah itu. Itu tekad kami Nak. Semoga, satu hari nanti, tekad itu semua terkabul. Kita bisa sama-sama mengantarkan Adong dan Andung ke bandara menuju tanah suci, Mekkah Al Mukarammah. Amin.
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | By Safrizal
Copyright © 2012. :: cerita tentang aceh:: - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger