Sosok yang Lama Hilang

Friday, June 6, 20140 comments

BAYANG pria gagah, kekar dengan wajah yang cukup tampan, hidung mancung dan rambut ikal lebat melintas di ingatan Abi akhir-akhir ini. Bayangan itu Nek Wan, kakekmu Nak. Sudah setahun lalu, beliau pindah ke alam sana. Menepati janji dengan Allah dan kini telah tenang di alam baka.
            Nak, sejak kecil Abi selalu berjauhan dengan Kakekmu. Ketika Abi berusia lima tahun, Abi menetap bersama Kakekmu, tanpa Adong. Saat itu, Adong sudah bekerja di Aceh Utara sedangkan Nek Wan bekerja di Aceh Tenggara. Jaraknya sekitar 14 jam perjanalan. Kami baru bergabung secara utuh ketika Abi berusia delapan tahun.
            Ketika Abi berusia 13 tahun, Kakekmu kembali bekerja di Aceh Tenggara sedangkan Abi tetap di Aceh Utara. Tiga tahun kemudian, Abi baru bertemu kakekmu lagi. Setelah itu, ketika Abi kuliah juga tidak bersama Adong dan Nek Wan.
            Nek Wan memilih menetap di Aceh Tenggara, karena di sana, Abi punya ibu satu lagi dan seorang anak buah cinta mereka. Tiga bulan sebelum kepergian Nek Wan ke alam sana, sebelum Allah memanggilnya, beliau ditabrak oleh seorang anak muda ketika berdiri di pinggir jalan di Aceh Tenggara. Kami merawatnya di Rumah Sakit Pusat Adam Malik di Medan. Dua tungkai kakinya patah.
Masriadi Sambo
            Saat itu, sebulan penuh, Abi secara bergantian dengan saudara yang lain menjaga di Medan. Meninggalkan pekerjaan demi memberi perawatan terbaik buat Nek Wan. Bahkan, Abi tak menuntut pengobatan pada si penabrak itu. Karena, ketika keluarganya datang ke rumah sakit, dengan pakaian lusuh dan menitikkan air mata, meminta maaf, Abi tak tega membebankan pengobatan pada mereka. Ditambah lagi, sepeda motor yang digunakan saat tabrakan itu terjadi adalah sepeda motor pinjaman yang kini di tahan di kantor polisi sebagai barang bukti. Maka, lengkap sudah cobaan keluarga itu.
            Nak, kita ini orang tak mampu juga. Abi dan Umi menguras isi tabungan untuk mengobati Nek Wan. Biaya pengobatan cukup mahal untuk ukuran dompet kita yang sangat tipis.
            Itu tak menjadi masalah Nak. Ini bakti Abi pada Nek Wan, pria yang telah mendidik Abi banyak arti kehidupan. Sejak Abi bekerja, setiap bulan Abi mengirimkan sedikit rezeki untuk Nek Wan. Sebulan setelah tabrakan, Nek Wan kembali ke Aceh Tenggara. Dan, Abi kembali ke Lhokseumawe. Melanjutkan hidup bersamamu dan Umi.
            Setiap bulan, Abi berusaha mengirimkan sebagian rezeki kita untuk Nek Wan. Kami sering saling telepon. Nek Wan, lelaki yang kuat. Jarang mengeluh. Seminggu sebelum Nek Wan meninggal dunia, Abi mengirimkan sedikit rezeki kita ke rekeningnya. Abi mengirimkan pesan singkat dan dibalas dengan ucapan terima kasih. Tak ada desiran aneh di hati Abi.
            Belakangan, Abi baru tahu, ternyata Nek Wan terbaring lemah di kasur. Lever akut menggerogoti tubuhnya. Seumur hidup, Abi tak pernah diceritakan tentang penyakitnya itu.
            Abi berdiskusi dengan Hatta (Pak Cikmu). Malam itu juga, dia berangkat ke Aceh Tenggara melihat kondisi Nek Wan. Jika kondisinya parah, Abi segera menyusul. Maklum nak, saat itu, Abi bekerja di perusahaan media. Kantor biro tak boleh kosong. Sedangkan di sisi lain, banyak teman yang sedang cuti dan istrinya sakit. Sehingga, Abi terpaksa menutupi pekerjaan mereka.
            Setelah Pak Cikmu tiba di Aceh Tenggara. Ternyata, kondisi Nek Wan sudah parah. Tak bisa menggerakkan tubuhnya. Menurut cerita, Nek Wan sempat dirawat di rumah sakit daerah. Namun, alasan biaya, ibu tiri Abi, memutuskan membawanya pulang. Hari itu juga, Abi meminta agar Pak Cikmu membawa Nek Wan ke Lhokseumawe. Pertimbangannya, agar kita mudah merawat Nek Wan. Abi dan Umi bisa bergantian menjaganya. Begitu juga keluarga lainnya.
            Usai subuh, ambulans yang membawa Nek Wan tiba di rumah sakit. Betapa terkejutnya Abi melihat sosok ringkih terbaring lemah di ambulans. Perutnya membesar. Sedangkan seluruh tubuh gempalnya seakan hilang. Hanya tinggal kulit yang menyatu ke tulang.
            Nak, Abi merasa berdosa. Abi tidak mengetahui kondisi Nek Wanmu.  Dalam sebuah hadis, Rasul SAW bersabda sungguh kasihan, sungguh kasihan, sungguh kasihan, lalu salah seorang sahabat bertanya, siapa yang kasihan wahai Rasulullah? Beliau menjawab, orang yang sempat berjumpa dengan orang tuanya, kedua-duanya, atau salah seorang diantara keduanya saat umur mereka sudah menua, namun tidak bisa membuatnya masuk surga.
            Nak, Abi pernah meminta Nek Wan menetap di rumah kita. Saat itu, beliau hampir sembuh dari luka tabrakan. Namun, dengan halus beliau menolak. Alasannya, kita belum punya rumah sendiri. Masih sewa rumah orang.
            “Nanti jika kau sudah punya rumah sendiri, baru Bapak akan menetap di rumahmu,” kata Nek Wan, satu sore saat kami menunggu Magrib di pelataran rumah sakit.  Abi melatih Nek Wan berjalan dengan menggunakan dua tongkat. Diselipkan di celah ketiaknya.
            “Pak. Sudah saatnya bapak istirahat. Tinggallah bersama kami, menantu Bapak pasti menerima dengan baik. Selama ini, mamak juga sangat kami rawat dengan baik,” kataku membujuk.
Nek Wan bergeming. Lalu bangun perlahan berlatih berjalan. Abi berjalan di sampingnya. Khawatir kaki bekas operasi belum sembuh total. Sejak kecil, Abi paling khawatir durhaka pada orang tua Nak.
Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan At Tirmidzi, Rasul pernah bersabda dan menyatakan orang tua adalah pintu pertengahan menuju surge. Bila engkau mau, silahkan engkau pelihara. Bila tidak mau, silahkan untuk tidak memperdulikannya.
Bahkan, satu hari seorang sahabat Rasul, Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta izin berjihad kepada Rasulullah. Beliau bertanya pada lelaki itu, apakah kedua orang tuamu masih hidup? Lelaki itu menjawab, masih. Beliau bersabda, kalau begitu, berjidahlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.
Nak sungguh bahagia, rasanya hati ketika bisa melayani dan merawat Nek Wan atau Adongmu. Namun, jalan hidup sulit ditebak. Nek Wan kembali kemari dengan kondisi lemah lunglai. Seluruh dokter di kota ini, Abi minta tolong untuk memberikannya perawatan terbaik.
Selama sepekan, sosok yang lama hilang itu terbaring lemah. Kubawa engkau Nak melihat Nek Wanmu. Dia tersenyum. Tak bisa bicara. Aku bangga, meski engkau masih berusia setahun lebih, engkau sudah bisa mengetahui, bahwa sosok lemah lunglai itu adalah Nek Wanmu. Mencium kening dan tangannya. Nek Wan terlihat tersenyum bahagia.
Namun, takdir tak bisa ditolak. Janji Nek Wan dengan sang pencipta telah tiba. Tepat setelah azan Zuhur, Nek Wan menghembuskan nafas terakhir. Di sampingnya, Adongmu duduk menemani. Menghantarkan pria yang dicintainya.
Nak, Abi ini bukan tipe manusia yang mudah sedih dan menitikkan air mata. Seumur hidup, seingat Abi, Abi tak pernah menangis. Bahkan, ketika Cicitmu, Nenekku, meninggal dunia, Abi juga tak menangis. Pamanku meninggal dunia, Abi juga tak menangis. Baru kali inilah Abi menangis Nak.
Rasanya, air mata itu keluar sendiri. Tak henti-henti. Abi sudah berusaha menghentikannya. Namun tak bisa.Malu rasanya dilihat orang lain, Abi mengeluarkan air mata. Namun, Abi menangis Nak. Abi belum bisa berbuat banyak untuk Nek Wanmu.

Nak, cerita ini kutulis buatmu, agar engkau tahu betapa pentingnya Nek Wanmu buat Abi. Abi berharap, engkau meniru langkahku.

Karena, dalam hadis Rasul sudah jelas-jelas disebutkan bahwa keridhaan Allah bergantung pada keridhaan orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan orang tua.
Nak, tentang berbakti pada orang tua, jauh-jauh hari telah dituliskan dalam Quran. Bacalah al Ahqaaf ayat 15 yang artinya telah kami pesankan seorang manusia untuk senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya.
Dalam An Nisaa ayat 36 disebutlah beribadahlah kepada Allah, jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun dan berbuat baiklah kepada orang tua. Berkali-kali Nak, Allah mengingatkan agar kita berbuat baik kepada orang tua. Namun, apa yang sudah Abi lakukan belum seberapa Nak. Jasa Nek Wanmu tak mungkin bisa Abi balas sampai Allah menjemputnya.
Nak, ingatlah pesan ini, sayangilah orang tuamu, Abi dan Umi serta saudaramu. Percayalah Nak, doa orang tua untuk anaknya langsung diterima oleh Allah SWT. Aku ingin, engkau menjadi anak yang berbakti.
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | By Safrizal
Copyright © 2012. :: cerita tentang aceh:: - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger